Keputusan Tentang Punya Anak

Sore itu saya menyambut Adit pulang dari kantor.

“Aku lapar”.

Segera saya siapkan piring berisi nasi putih hangat dari dalam rice cooker dan saya sodorkan untuk dimakan dengan lauk yang sudah saya hidangkan.

Saya temani Adit makan sambil kami ngobrol. Kali itu saya membuka topik tentang Om saya yang sebentar lagi akan menyambut anaknya yang akan lahir. Om ini sudah menantikan keturunan selama 11 tahun. Sudah banyak cara dan negara disambangi oleh mereka untuk mencoba memiliki anak.

“Kalau misal kita ada di posisi mereka, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan Adit nggak langsung saya jawab karena saya langsung memperhatikan Ammar yang sibuk mondar – mandir di depan ruang keluarga sambil menarik mainan dump truck – nya yang bisa bernyanyi.

Iya, gimana kalau seandainya anak kecil yang sekarang ceriwis ini nggak muncul di hidup kami?

Dulu saya pernah bilang ke Adit semisal setahun setelah menikah kami nggak juga dikaruniai keturunan, mungkin saya akan minta kita berdua cek ke dokter apakah kita berdua punya sistem reproduksi yang sehat atau nggak. Mengingat juga saya punya siklus haid yang sangat tidak teratur.

Setelahnya, mungkin kami akan mendiskusikan untuk memiliki anak lewat program IVF. Itupun kalau uangnya mencukupi yaa. Tau sendiri kan program ini bisa menghabiskan ratusan juta.

Gimana kalau gagal? Yaudah nggak perlu coba lagi. Pasrahkan aja sama yang di Atas, karena seperti yang orang selalu bilang; anak adalah rejeki. Belum punya anak berarti rejekinya diganti dengan hal yang lain.

***

Kami sangat beruntung dipercayakan oleh yang Maha Kuasa untuk membesarkan seorang anak. Sekarang tugas kami membesarkan dan membekali dia dengan hal – hal yang baik.

Lucunya setelah Ammar cukup besar saya dan suami sering banget dibanjiri pertanyaan tentang anak kedua.

“Nggak mau nambah anak lagi?”

“Nambah lah, mumpung masih muda”

Pertanyaan serupa biasanya cuma kami jawab dengan cengir kuda, atau kalau lagi nggak mood saya jawab dengan “iya tapi bayarin sekolahnya sampe kuliah, ya” lol.

Sempat kami kepikiran untuk menambah anak lagi setelah Ammar menginjak usia diatas 4 tahun. Alasannya supaya belajar berbagi dan bersosialisasi dimulai dari rumah. Klisenya lagi alasan saya supaya songket dan koleksi tas bisa dilungsuri ke anak hahaha.

Kenapa juga pilih diatas empat tahun supaya Ammar tercukupi kasih sayang dari kami. Saya pernah ada di posisi jadi anak kecil yang dipaksa untuk jadi dewasa dan mesti jadi contoh untuk adik – adiknya.

Padahal saat itu saya juga anak kecil, ingin dimanja dan banyak ngobrol sama Mami. Saya anak kecil yang gimana bisa sih jadi contoh, lha wong banyak hal yang belum saya tahu.

Sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu Adit cerita sama saya ketika dia melihat Armand Maulana anaknya sudah besar dan sekarang kuliah di UK. Anaknya semata wayang namun mereka berhasil membekalinya dengan hal yang orang lihat cukup baik.

Udah ya, kita punya satu anak aja“, adalah kalimat yang keluar dari mulut Adit.

Saya pun setuju.

Karena, kami jadi fokus saling belajar untuk mengisi hal – hal baik untuk Ammar. Punya anak itu bukan hanya urusan ngasih makan dan bayar uang sekolah serta les ngaji, les musik, dan les – les lainnya. Bukan juga cuma tentang suruh mereka hormat karena kita orang tuanya.

Belum genap umur tiga tahun aja saya sudah mikir tentang pertumbuhannya lah, edukasi seks lah, juga gimana caranya saya bisa jadi madrasah pertama di masa pandemi ini. Gimana caranya saya tetap bahagia dan mengontrol emosi walau api amarah udah di ubun – ubun lihat dia teriak – teriak hanya karena hal sepele kayak kantong kresek yang dia mainin nggak sengaja saya buang.

Alasan lainnya yaitu kami kepingin punya banyak waktu berdua, karena bagaimanapun nantinya setelah anak – anak dewasa kami akan kembali hidup berduaan saja. Itu pun entah sampai kapan karena umur manusia tidak ada yang tahu.

Kami nggak mau nantinya tidak menikmati hidup karena keburu tua dan keburu capek buat mesra – mesraan berdua. Cita – cita buat road trip bareng masih jadi salah satu keinginan yang tertunda.

Doa kami, semoga untuk teman – teman yang masih berjuang untuk memiliki anak segera dikabulkan. Untuk teman – teman yang memutuskan untuk tidak memiliki anak juga it’s totally fine. Itu keputusan kalian dan selamat menikmati indahnya pernikahan berdua dengan pasangan 🙂

3 thoughts on “Keputusan Tentang Punya Anak”

  1. Woaah perjuangan 11 tahun. Pasti om-nya bahagia banget yaa akhirnya bisa dikaruniai seorang anak… Aku sendiri masih belum punya anak… Semoga suatu saat juga bisa diberi kepercayaan sama Yang Maha Kuasa untuk diberikan anak. Amin. Makasih kak untuk ceritanya ^^

    Like

  2. Tulisan ini membuka mata saya tentang pentingnya diskusi secara terbuka antar suami-istri… Saya belum di tahap itu saat ini (belum menikah), dan saya setuju dengan cara mba Ayu dan suami melihat contoh Armand Maulana dan istri membesarkan anak tunggal mereka.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s