Newest Addiction : Gramedia Digital

“Eh kok jaman sekarang buku harganya mahal – mahal amat, ya”, itu adalah ucapan saya ke Adit di salah satu pillow talk kami sebelum tidur.

Berawal dari scroll IG Story milik Nadila Dara tentang update buku – buku yang sudah dia baca, lalu saya tersadar sudah lama sekali rasanya nggak baca buku. Terakhir kali mungkin di awal – awal tahun.

Terus melipir lah saya ke salah satu aplikasi e – commerce dan berniat untuk beli buku fisik. Waw, lumayan juga yaa range harganya banyak yang diatas 70 ribuan. Beli 4 buku udah 300 ribu sendiri sama ongkir. Iya sih buku adalah jendela dunia. Beli buku sama dengan berinvestasi. Tapi di saat kayak gini uang segitu mending dibelanjain LM aja deh buat tabungan sekolah anak hahaha.

Suatu hari melipir ke blog nya Mbak Jane dan sempat di satu postingan doi mention Gramedia Digital. Wah, baru tau saya Gramedia sekarang ada aplikasi berlangganan buat baca koleksi buku – bukunya. Padahal ternyata udah ada dari 2019 loh, dasar saya nggak update hihii.

Sekilas mengenai platform ini, jadi ada beberapa paket untuk berlangganan salah satunya yang saya pilih yaitu Full Premium Package. Di paket ini kita bebas baca buku genre apa aja dan cukup bayar 89,000 buat 1 bulan.

Sebagai emak – emak yang ogah rugi, saya niatkan mulai bulan Agustus untuk rajin baca buku lagi. Nggak sia – sia, saya pun berhasil melahap 4 buku yang tersedia di Gramedia Digital dalam sebulan.

Apa aja yang saya baca? Cuss lah cek daftarnya di bawah ini πŸ™‚

Filosofi Teras – Henry Manampiring

Saya punya buku ini dalam versi hard copy. Jadi ceritanya udah lama buku ini masuk shopping cart saya tapi selalu kalah saing sama barang lain untuk di check out. Pas saya tau tentang Gramedia Digital, eeh pas banget bukunya udah habis 2 bab.

Yaudah, tetap berpegang prinsip ogah rugi, akhirnya yang versi hard copy saya pajang di rak buku dan saya pilih baca versi pdf nya.

Menurut saya buku ini boring di 2 bab pertama. Berasa baca pembukaan skripsi; banyak basa – basi, yang penting halamannya penuh terisi. Hampir aja saya mau berhenti baca, tapi dikuatkan rasa penasaran ‘kok bisa sih buku ini sampe naik cetak 12 kali dan jadi best seller’ yowis, akhirnya lanjut baca.

Di bab ketiga, dari yang ngantuk banget jadi melek dan ngerasa ‘eh kok seru ternyata’. Apalagi mulai dibahasnya prinsip dikotomi kendali atau hal – hal yang bisa manusia kendalikan dan tidak. Contoh yang bisa kendalikan yaitu keputusan dan emosi. Yang nggak bisa dikendalikan? Tentu saja salah satunya pendapat netijen πŸ˜‰

Buku ini berhasil mengubah hidup saya beberapa hari menjadi lebih zen. Bahkan, Adit pun sampe berkomentar “aku happy banget akhir – akhir ini kamu nggak pernah ngomel – ngomel”. Wow udah di cap emak – emak tukang ngomel ternyata kita tu LOL.

Salah satu alasan kenapa buku ini jadi pilihan karena ada satu bab yang mengajarkan filosofi teras di dalam dunia parenting. Pas banget doong untuk ibu yang masih belajar macam saya. Salah satu prinsip yang bisa diajarkan sedari kecil dengan memberikan pilihan mau makan apa hari itu atau mau pakai baju yang mana.

Kitab Kawin -Laksmi Pamuntjak

Awalnya saya kira buku ini masuk ke kategori self-help, eh ternyata pas baca sinopsi dan review ini tuh kumpulan cerpen toh. Menariknya, ternyata tema besar dari buku ini adalah bermacam cerita asmara dari 11 wanita.

Salah satu kisah yang paling saya suka adalah tentang seorang perempuan asal Serang bernama Amira. Umurnya masih 13 tahun dan baru mengalami mens pertama. Amira pintar dan punya cita – cita, sayang orangtuanya lebih pilih menikahkan Amira dengan Fawzi yang anak orang kaya di kampungnya. Mau tidak mau akhirnya Amira menurut.

Nggak lama Amira hamil, tapi Fawzi malah punya pacar baru. Setelah melahirkan Amira pilih menitipkan anaknya ke guru SD nya dahulu dan mencari kerja ke Jakarta. Sampai di Jakarta, Amira berkenalan dengan Anisa dan diajak ngekos bareng di tempatnya, tepatnya di atas restoran Korea. Awalnya Amira kira Anisa baik, tapi ternyata Amira dijadikan ‘pedagang’ di kosan yang juga merupakan rumah bordil.

Menurut saya biarpun mengusung tema tentang hubungan asmara, tapi semuanya dibalut dengan nuansa ‘dark romance’. Menjadi sebuah ‘eye-opener’ juga seperti dalam cerpen berjudul Azul Maya dimana seorang perempuan diperkosa berkali – kali oleh ayah kandungnya.

Pertama Kalinya – Sitta Karina

Sebagai penikmat buku – buku karangan Sitta Karina, rasanya sudah semua karya nya saya lahap. Tapi nggak mau takabur, saya iseng – iseng cek di kolom pencarian siapa tau ada buku lainnya yang belum saya baca. Ternyata benar, buku Pertama Kalinya ini terlewatkan oleh saya.

Seperti Kitab Kawin, buku ini juga merupakan kumpulan cerpen. Bedanya, Sitta Karina disini berkolaborasi dengan beberapa penulis seperti Alanda Kariza dan Diana Laksmini.

Cerita di dalamnya ada yang pernah ditampilkan di majalah seperti cerpen berjudul Mata Hati. Bercerita tentang Alif Hanafiah, si anak konglomerat yang sibuk mempersiapkan kegiatan sosial bernama Rice for Life bersama teman sekaligus gebetannya, Kendra. Sayangnya, orangtua Alif nggak suka kalau Alif sibuk di acara ‘gembel’ (menurut mereka) apalagi harus dekat dengan Kendra.

Buku ini ber – genre chicklit, itu kenapa setiap cerita terasa ringan dan saya bisa selesai membaca dalam satu hari. Buat yang kepalanya berasap sehabis baca buku – buku thriller atau kategori berat lainnya, mungkin Pertama Kalinya bisa jadi pilihan untuk me – time sambil berjemur dan minum es kopi susu.

Ganjil Genap – Almira Bastari

Buku pertama karangan Almira Bastari yang saya baca judulnya Resign! dan sampai sekarang masih menjadi buku favorit saya. Ganjil Genap merupakan buku terbaru dari pengarang yang sama, wah jelas saya nggak mungkin melewatkan dong.

Masih mengusung tema tentang wanita karir di kota metropolitan, kali ini dalam Ganjil Genap bercerita tentang Gala. Gala adalah wanita sukses di akhir usia 20 tahunan dan tiba – tiba diputusin sama pacarnya setelah 13 tahun berpacaran.

Yes, you read it right. Thirteen fucking years, people. Anyone can relate? πŸ™‚

Padahal, Mama – Papanya sudah maksa – maksa Gala untuk cepat menikah. Ditambah lagi Adiknya, Gisha tiba – tiba berencana untuk menikah padahal usianya masih 22 tahun dan baru lulus kuliah. Tambah pusing lah Gala dibuatnya. Beberapa cara dilakukan Gala supaya bisa nikah duluan; seperti ngajak balikan mantan, ikut aplikasi kencan online, sampai bersedia dijodohkan oleh teman – temannya.

Well, nggak mau cerita panjang – panjang karena buku ini wajib dibaca sendiri. Plot twist endingnya dapet banget, sepanjang membaca pun banyak bagian yang bikin ketawa ngakak sendiri. Saya sampai nggak kuat nahan ketawa padahal takut banget Ammar kebangun karena waktu membacanya setelah jam dia tidur.

***

Lumayan banyak yaa buku yang bisa saya baca bulan Agustus ini dan saya bangga hahahaha. Biasanya mah satu buku aja belum tentu kelar dalam sebulan, lah ini bisa empat. Eh 7 deng sama e-book yang saya beli dari luar.

Emang deh, kalau pakai prinsip ogah rugi lebih banyak untungnya dari pada nggak nya hahaha πŸ˜€

1 thought on “Newest Addiction : Gramedia Digital”

  1. Aku akhirnya beli Kitab Kawin yang fisik hauhahaha. Pertama karena covernya cakep, kedua premis novelnya menarik karena tentamg perempuan. Nggak sabar ingin baca, hihi.

    Sejak langganan Gramedia Digital kegiatan membacaku meningkat jauh, Mba hahahaha. Senengnya karena nggak numpuk buku, tapi tetap bisa dibaca berulang kali di gadget.

    Btw, Filosofi Teras sempat jadi best read aku di 2019. Tapi kayaknya harus baca lagi karena masuk pandemi zen aku sering hilang 🀣

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s